Sosok Peraih MVP Event MDP Basketball League 2026, Gejan: Jawaban dari Doa, Allah Swt yang Mengabulkan

Nama Ghaisan Ziyad Arrafif atau yang akrab disapa Gejan, sudah muncul sejak fase fantastic four MDP Basketball League 2026. Guard tim SMP Kusuma Bangsa Palembang (Kumbang) itu digadang-gadang kandidat kuat sebagai Most Valuable Player (MVP).

Dalam perjalanannya, Tim Kumbang terus melaju ke semifinal, hingga puncaknya final party, Sabtu malam (7/2). Terlebih ketika Tim Kumbang berhasil menaklukkan tim SMP Negeri 1 Muara Enim (Last King), dengan skor akhir 87–52.

Nama Gejan tak terbantahkan sebagai MVP. Gemuruh sorak-sorai suporter Kumbang, begitu nama Gejan diumumkan sebagai peraih MVP MDP Basketball League 2026. Sorot lampu arena seakan tak mau lepas dari sosok Gejan.

Namun bagi Gejan, momen paling membekas justru terjadi jauh sebelum trofi champions mereka genggam, ataupun meraih penghargaan sebagai MVP. “Tapi momen ketika saya berdoa kepada Allah Swt saat salat. Mohon hasil yang terbaik, dan sisanya bonus dari-Nya,” ujarnya.

Tak hanya dikenal sebagai guard dengan basketball IQ tinggi, tetapi juga pribadi yang memegang teguh prinsip hidupnya: Agama di atas segalanya. Sepanjang MDP Basketball League 2026, performanya terbilang stabil.

Pemain dengan jersey nomor 22 itu tampil konsisten menjaga tempo permainan. Piawai membaca spacing dan cerdas dalam ball movement. Meski begitu, Gejan tetap mengakui ada ujian di partai puncak.

“Alhamdulillah saya bermain konsisten sepanjang event ini, meski di final saya bermain tidak fokus awalnya,” ungkapnya. Banyak yang menyebut Gejan sebagai pemain komplet. Tajam dalam offense, disiplin dalam defense. Namun dia menolak sorotan individu berlebihan.

“Saya bangga terhadap tim saya, saya tidak bisa bermain sendiri,” tegasnya. Baginya, points, assists, rebounds, hingga steals hanyalah bagian dari sistem. Yang terpenting adalah energi kolektif.

Soal basketball IQ, Gejan punya pandangan matang. Dalam tempo cepat, ia tahu kapan harus push the pace dan kapan memperlambat ritme. “IQ harus selalu diimbangi dengan mental. Jika terburu-buru maka IQ tidak akan jalan, begitupun sebaliknya,” ucapnya.

Kombinasi itulah yang membuatnya tetap dingin saat memasuki clutch time. Di detik-detik krusial, ketika laga memasuki fourth quarter dan tekanan meningkat, Gejan justru tampil tenang. Tak ada selebrasi berlebihan, tak ada gestur panik.

Gejan kelahiran Palembang, 22 Desember 2010. Sulung dari tiga bersaudara, buah hati pasangan Hendra Yada Putra dan Ida Anicka Ariani. Saat ini dia duduk di kelas 9A SMP Kusuma Bangsa Palembang. Artinya, pertengahan tahun nanti dia sudah sekolah jenjang SMA.

“Ini event (MDP Basketball League) terakhir saya di jenjang SMP ini,” katanya. Oleh karena itu setiap possession masih berseragam putih biru ini, sebagai momen yang tak boleh disia-siakan. Ketika lawan mencoba mengunci pergerakannya lewat double team, Gejan tak memaksakan diri.

Gejan memilih membaca celah. “Maka ada satu pemain yang tidak dijaga, sehingga saya bisa menjadi umpan bagi tim,” jelasnya. Keputusan cepat itu kerap berujung assist matang atau open shot bagi rekan setim.

Menurutnya, bermain bagus secara individu dan efektif dalam sistem tim bukanlah dua hal yang bisa dipisahkan. “Kedua hal tersebut tidak bisa dibedakan, itu harus disatukan untuk menjadi pemain basket,” ujarnya.

Prinsip itu terlihat jelas dalam cara ia menjaga spacing dan mengikuti arahan pelatih terkait rotasi serta defensive switch. Tak selamanya field goal percentage berada di angka ideal. Ada momen ketika shot tak kunjung masuk.

Namun Gejan tak kehilangan impact. “Saya mencoba membantu secara defense dan mental tim,” katanya. Ia meningkatkan intensitas one-on one defense dan tak ragu melakukan help defense demi menjaga ritme.

Soal tantangan mental, ia tak menampik rasa gugup. “Semua orang pasti gugup, namun saya selalu mencoba menghilangkan rasa itu dengan berdoa,” ungkapnya. Bagi Gejan, stamina dan rotasi pemain juga jadi kunci menjaga intensitas selama empat quarter.

Tanpa itu, sistem bisa runtuh. Menariknya, saat ditanya tentang highlight terbaik musim ini-apakah dunk, assist, atau clutch shot,jawabannya sederhana: “Ketika tim saya tersenyum dan saling merayakan tiap kemenangannya,” tuturnya.

Dia menegaskan bahwa MVP baginya bukan sekedar angka di statistik sheet, melainkan pengaruh nyata terhadap mental dan kebersamaan tim. Perjalanan Gejan di basket tak lepas dari peran sang ayah.

Gejan mengenal olahraga ini sejak kecil, terinspirasi dari cerita ayahnya yang pernah berprestasi di level SMA dan kompetisi lokal. “Style bermain saya juga dipengaruhi ayah saya. Ia sering melakukan jelly layup yang sangat memukau mata, meski kidal tapi bermainnya sangat semangat,” kenangnya.

Derrick Rose pun menjadi role model yang membentuk agresivitas dan explosiveness dalam permainannya. Meski bersinar di lapangan, Gejan tetap remaja sederhana yang gemar membaca buku di luar jam latihan.

Ia bercita-cita menjadi entrepreneur atau diplomat, membuktikan bahwa mimpinya tak hanya berhenti di paint area. Saat diminta merangkum musim ini dalam satu kata, ia tersenyum dan menjawab singkat, “Alhamdulillah.”

MVP mungkin gelar individual, tetapi bagi Gejan, itu adalah hasil dari doa, disiplin, adaptasi, dan chemistry yang tak tergantikan. Jika musim ini menjadi penutup manis di level SMP, besar kemungkinan panggung yang lebih tinggi sudah menanti sang rising star Palembang ini.

Sumber : https://sumateraekspres.bacakoran.co/berita-utama/read/106003/sosok-peraih-mvp-event-mdp-basketball-league-2026-gejan-jawaban-dari-doa-allah-swt-yang-mengabulkan

Leave a comment